LOGOTERAPI
1. Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku/kepribadian
Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa yunani berarti makna dan juga rohani. Sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterai secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikolog / psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat adalah hidup yang didambakan.
1. Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku/kepribadian
Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa yunani berarti makna dan juga rohani. Sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterai secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikolog / psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat adalah hidup yang didambakan.
2. Unsur-unsur
terapi
a.
Munculnya gangguan logoterapi biasanya dilakukan untuk klien-klien yang
mengalami PTSD (Post Traumatic Stres Disorder), karena biasanya orang yang
stres akibat trauma cenderungmenyalahkan diri sendiri bahkan bisa ke resiko
mencederai diri dan orang lain.
b.Tujuan
terapi
Tujuan
dari logoterapi adalah memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang
secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras,keyakinan dan agama.
2. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan
diabaikan bahkan terlupakan. 3. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit
kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala,
dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih
bermakna.
c. Peran terapis, peranan dan kegiatan terapis
menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan dan kegiatan terapis yaitu
menjaga hubungan akrab dan pemisahan ilmiah, mengendalikan filsafat pribadi,
terapis bukan guru, memberi makna lagi pada hidup, memberi makna lagi pada
penderitaan, menekankan maknakerja dan menekankan makna cinta.
3.
Teknik-teknik Logoterapi
Metode
penanganan atau teknik-teknik terapi yaitu :
a.Intensi
paradoksikal
Frankl
memulai dengan membahas suatu fenomena yang disebut kecemasan antisipatori
yaitu, kecemasan yang diitmbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi
dan atau gejala yang ditakutinya. Kecemasan antisipatori ini lazim dialami oleh
para pengidap fobia.
b.Derefleksi
Frankl kembali menggunakan kecemasan antisipatori sebagai titik tolak. Menurut Frankl, pada kasus dimana kecemasan antisipatori menunjukkan pengaruhnya yang kuat, kita bisa mengamati suatu fenomena yang cukup menonjol, yakni paksaan kepada observasi diri atau pemaksaan untuk mengatasi diri sendiri. Istilah lain untuk fenomena tersebut adalah refleksi yang berlebihan
c.Bimbingan rohani
b.Derefleksi
Frankl kembali menggunakan kecemasan antisipatori sebagai titik tolak. Menurut Frankl, pada kasus dimana kecemasan antisipatori menunjukkan pengaruhnya yang kuat, kita bisa mengamati suatu fenomena yang cukup menonjol, yakni paksaan kepada observasi diri atau pemaksaan untuk mengatasi diri sendiri. Istilah lain untuk fenomena tersebut adalah refleksi yang berlebihan
c.Bimbingan rohani
Menurut Frankl untuk kasus-kasus neurosis
noogenik logoterapi merupakan terapi yang spesifik, sementara untuk sejumlah
kasus lainnya logoterapi merupaka terapi non spesifik. Artinya, ada kasus-kasus
dimana psikoterapi konvensional perlu diterapkan, dan logoterapi bisa digunakan
sebagai pelengkap guna menghasilkan kesembuhan yang komplet. Ada pula
kasus-kasus dimana yang diperlukan bukan terapi, melainkan sesuatu yang lain
yaitu bimbingan rohani.
Terapi
Rasional Emotif (Rational-Emotive Therapy)
1.
Konsep Dasar Pandangan Rasional Emotif tentang Perilaku/Kepribadian
Terapi
rasional-emotif ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan
potensi rasional, berpikir lurus dan tidak rasional, berpikir tidak lurus.
Orang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, kebahagiaan, pemikiran
dan verbalisasi, penuh kasih,bertemu dengan orang lain, berpertumbuh dan
aktualisasi diri. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk penghancuran diri,
menghindari pemikiran, penundaan, pengulangan tanpa akhir dari kesalahan,
intoleransi, perfeksionisme dan menyalahkan diri sendiri, dan menghindari
mengaktualisasikan potensi selama perkembangan.
2.
Unsur-Unsur Terapi Rasional Emotif
Unsur-unsur
terapi rasional emotif menurut Corey (1982) adalah sebagai berikut:
a.
Tujuan Terapi
Ellis
(1979) mengelompokkan arah dari RET terhadap klien:
1) Self-Interest:
tanpa menjadi benar-benar diserap ke dalam diri mereka, orang yang sehat secara
emosional memiliki kapasitas untuk tertarik pada diri mereka sendiri.
2) Social-Interest: manusia
jarang memilih untuk menyendiri, dan mereka memiliki kepentingan dalam hidup
secara efektif dengan orang lain dalam kelompok sosial.
3) Self-Direction:
meskipun secara emosional orang yang sehat mungkin lebih suka kerjasama dan
dukungan orang lain, namun mereka tidak menuntut dukungan ini. mereka mampu
memikul tanggung jawab untuk kehidupan mereka sendiri, dan mereka dapat bekerja
untuk memecahkan secara independen sebagian besar masalah mereka sendiri.
4) Tolerance:
orang dewasa dapat tidak menghukum kesalahan orang lain atas perilaku orang
tersebut.
5) Flexibility: orang
sehat tetap fleksibel dalam ide-ide mereka, terbuka untuk berubah.
6) Commitment: individu
yang sehat memiliki kapasitas untuk menjadi benar-benar diserap dalam sesuatu
di luar diri mereka sendiri.
7) Self-Acceptance: orang
sehat menerima diri karena mereka masih hidup, dan mereka menghindari mengukur
diri mereka dengan prestasi eksternal dari evaluasi orang lain.
3.
Teknik-Teknik Terapi Rasional Emotif
a. Cognitive Methods
RET sangat bergantung pada pemikiran,
berselisih, berdebat, menantang, menafsirkan, menjelaskan, dan pengajaran.
Berikut adalah beberapa teknik kognitif yang dapat dilakukan oleh terapis:
1) Disputing of Irrational Beliefs: metode kognitif yang paling umum dari RET terdiri dari aktif/direktif menentang keyakinan irasional klien. Terapis menunjukkan klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa atau situasi tertentu tetapi karena persepsi klien tentang peristiwa dan karena sifat dan pernyataan terhadap diri mereka. Terapis menantang keyakinan irasional dengan mengajukan pertanyaan seperti: dimanakah bukti keyakinan Anda? mengapa hidup anda bisa mengerikan jika hidup tidak seperti yang Anda inginkan?
1) Disputing of Irrational Beliefs: metode kognitif yang paling umum dari RET terdiri dari aktif/direktif menentang keyakinan irasional klien. Terapis menunjukkan klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa atau situasi tertentu tetapi karena persepsi klien tentang peristiwa dan karena sifat dan pernyataan terhadap diri mereka. Terapis menantang keyakinan irasional dengan mengajukan pertanyaan seperti: dimanakah bukti keyakinan Anda? mengapa hidup anda bisa mengerikan jika hidup tidak seperti yang Anda inginkan?
2) Cognitive
Homework: klien diberikan tugas, yang merupakan cara untuk melacak
keharusan absolut yang merupakan bagian dari diri mereka. Seperti orang dengan
bakat akting, namun takut berada di depan banyak orang karena takut gagal,
orang tersebut diminta latihan melakukan sedikit akting di panggung, lalu
terapis memberi pesan kepada orang tersebut untuk mengatakan sesuatu seperti:
"saya bisa akting, saya akan melakukan yang terbaik yang saya dapat
lakukan, tidak ada orang yang seperti saya, dan ini bukanlah akhir dari
dunia."
3) Client's
Disputing of an Irrational Belief: dengan teknik ini, klien melakukan
satu hal yang menjadi irasionalitas utama setiap hari selama sedikitnya sepuluh
menit. Klien melakukan hal tersebut sampai keyakinan irasional tidak lagi
berusaha ditahan, atau sampai berkurang.
4) Bibliotherapy:
meminta klien untuk membaca literatur rasional-emotif, yang dirancang untuk
membantu mereka dalam proses restrukturisasi kognitif.
5) Employing
New Self-Statements: setelah klien belajar untuk melawan keyakinan
merusak diri sendiri, kemudian melakukan pengajaran yang mengarah ke pernyataan
rasional dan asumsi yang konstruktif.
b. Emotive Techniques
Secara
emotif, terapis menggunakan berbagai prosedur, termasuk penerimaan tanpa
syarat, rasional-emotif bermain peran, modeling, self-statements, citra
rasional-emotif, dan latihan menyerang rasa malu. Klien diajarkan nilai
penerimaan diri tanpa syarat. Meskipun perilaku mereka mungkin sulit untuk
menerima, mereka sebagai pribadi memiliki nilai intrinsik. Mereka diajarkan
bagaimana merusak itu adalah untuk menempatkan diri merasa kekurangan. Salah
satu teknik utama mengajar klien penerimaan diri adalah modeling.
c. Behavioral Techniques
Praktisi
biasanya menggunaka operant conditioning, self-management principles,
systematic desensitization, instrumental conditioning, biofeedback, teknik
relaksasi, dan modeling. Klien benar-benar melakukan hal-hal baru dan sulit,
dan dengan cara ini mereka menempatkan pengetahuan mereka dengan bentuk
tindakan nyata.
Terapi
Kelompok (Group Therapy)
1. Konsep
Dasar
Fokus
dari terapi kelompok adalah pada terapi yang dilakukan pada dinamika kelompok
dan kemampuan interpesonal, bukan pada perubahan kepribadian dasar. Terapi
kelompok lebih berfokus pada perbaikan dan rekonstruksi sifat dari pada
pengelolaan masalah perkembangan yang sedang terjadi. Karena populasi klien
yang cenderung menderita masalah emosional yang lebih parah, penawaran
psikoterapi kelompok dengan kesulitan masalalulah yang menghambat fungsi saat
ini. Terapi kelompok biasanya mencoba untuk membantu peserta untuk mengalami
kembali situasi yang menyakitkan dan untuk mengekspresikan perasaan secara
intensif, seperti kebencian intens. karena ini pengalaman traumatis yang muncul
kembali dalam kelompok, peserta mendapatkan wawasan tentang bagaimana masalalu
mereka yang penuh dinamika secara sadar mengganggu fungsi kelompok. Terapi ini
cenderung dilakukan dengan durasi yang relatif lama. Terapi kelompok dapat
didasarkan pada berbagai model terapi termasuk psikoanalisis, behavior, dan
kerangka kerja fenomenologis.
2. Unsur-Unsur
Terapi Kelompok
a.
Tujuan terapi
Meningkatkan
identitas diri, menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok,
meningkatkan keterampilan hubungan sosial, meningkatkan kemampuan hidup mandiri
b.
Fungsi Terapis
Wolf
(1963) menemukan fungsi-fungsi lain dari konselor sebagai pemimpin kelompok,
yaitu :
1)
Berusaha untuk mengakui kesalahan sendiri dan merasa rela memberikan beberapa
fungsi kepemimpinan kepada para anggota kelompok, apabila fungsi itu mempunyai
manfaat terapeutik bagi kelompoknya.
2)
Menghindari sikap diktator dan gaya kepemimpinan yang memojokkan anggota untuk
mengikutipendapat terapis.
3)
Menyambut baik pernyataan pengalihan dalam kelompok sebagai kesempatan untuk
keberhasilan kerja.
4)
Membimbing anggota ke arah kesadaran penuh dan ke arah integrasi sosial.
5) Melihat kelompok yang dipimpinnya sebagai wahana yang mempunyai potensi yang kuat.
6) Mengakui kemampuan potensial para anggota kelompok dalam menafsirkan dan mengintegrasikan materi yang dihasilkan oleh anggota lain dan mengakui kemampuan mereka untuk mendekati kebenaran yang tidak disadarinya.
5) Melihat kelompok yang dipimpinnya sebagai wahana yang mempunyai potensi yang kuat.
6) Mengakui kemampuan potensial para anggota kelompok dalam menafsirkan dan mengintegrasikan materi yang dihasilkan oleh anggota lain dan mengakui kemampuan mereka untuk mendekati kebenaran yang tidak disadarinya.
7)
Waspada terhadap perbedaan individual di dalam kelompoknya.
8)
Menggunakan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
konflik di dalam kelompok.
9)
Mempertahankan sikap optimis apabila kelompok mulai merasa bimbang.
10) Member contoh mengenai kesederhanaan, kejujuran dan bertindak langsung.
11) Menciptakan suasana emosional yang bebas dengan membuka perasaannya.
10) Member contoh mengenai kesederhanaan, kejujuran dan bertindak langsung.
11) Menciptakan suasana emosional yang bebas dengan membuka perasaannya.
3. Teknik-Teknik
Terapi Kelompok
Menurut
Brammer, Shostrom dan Abrego (1994), teknik-teknik dalam terapi kelompok adalah
sebagai berikut:
a. Psychodrama
Techniques
Psikodrama sebagai
teknik bermain peran untuk membantu klien dengan menerapkan adegan dari masalah
mereka yang akan meningkatkan pemahaman mereka tentang konflik mereka.
Bermain peran akan
membantu klien memperoleh perspektif yang lebih baik dari diri mereka sendiri
dan orang lain. dapat digunakan, misalnya, untuk berlatih menghadapi situasi
sosial yang sulit klien.
Bahkan ketika bisa
digunakan dalam situasi kelompok pekerja yang memenuhi syarat, penekanan harus
ditempatkan pada kenyataan bahwa banyak komplikasi dapat timbul jika tidak
dilakukan dengan benar. Bach (1954) memperingatkan efek traumatis kemungkinan
akan tereksternalisasi mengancam melalui bermain peran.
b. T-Group
Techniques
Salah satu kontribusi
utama dari Training (T) kelompok untuk para klien memahami
proses pengambilan keputusan mereka sendiri. Kelompok diberikan daftar 15
barang dan diminta untuk mengurutkan peringkat barang-barang tersebut dimulai
dari hal yang penting bagi mereka untuk bertahan hidup. Kelompok ini kemudian
diminta untuk berdiskusi mengenai pengalaman mereka, mengeksplorasi pola
kepemimpinan, resolusi konflik, dan proses pengambilan keputusan.
c. Encounter
Techniques
Teknik encounter (pertemuan)
dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran diri. Misalnya, digunakan untuk
memperluas kesadaran sensorik dan kepercayaan interpersonal. Peserta secara
berpasangan diminta untuk memandu pasangan dengan mata tertutup dan menggunakan
tangan untuk mengeksplorasi sambil berjalan. Memandu untuk melindungi
pengikut/pasangannya dari setiap langkah menuju bahaya, seperti pohon, atau
dinding dan membujuk pasangan untuk mengeksplorasi berbagai bau dan tekstur
tanpa menggunakan kata-kata. Kedua pasangan juga bertukar peran, kemudian
mendiskusikan pengalaman mereka. Contoh lain dari latihan encounter adalah
di mana dua mitra duduk kembali ke belakang dan melakukan percakapan.
Pasangannya kemudian memproses pengalaman berbicara tanpa isyarat visual.
d. Behavioral
Techniques
Banyak teknik behavior
seperti modeling, pelatihan keterampilan, memecahkan masalah dan relaksasi juga
digunakan dalam terapi kelompok. Misalnya, dalam kelompok pelatihan asertif,
peserta dijelaskan situasi di mana mereka ingin menjadi lebih tegas. Peserta
akan mendapatkan ide-ide untuk bagaimana menangani situasi. Situasi dapat
dilatih berulang-ulang sampai peserta merasa puas dengan kemampuannya untuk
berperilaku asertif.
e. Dance
and Art Therapy
teknik ini akan mendorong kesadaran
tubuh, gerakan kreatif, dan interpersonal empati. Anggota kelompok
berpasang-pasangan. Satu orang mengambil peran sebagai pemimpin, dan
pengikutnya mencoba untuk menjadi bayangan cermin dari pemimpin, mengikuti
gerakan pemimpin semirip mungkin. Mematung adalah teknik terapi seni di mana
peserta diminta untuk mematung merupakan representasi dari diri mereka sendiri,
keluarga mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan kemudian menceritakan hasil
dengan anggota kelompok lainnya.
Terapi Behavior (Behavior Therapy)
1. Konsep
Dasar
Terapi
behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah
laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memnuhi
kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan
bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menghadapi situasi dan masalah dengan
cara yang lebih efektif dan efisien.
2. Unsur-Unsur
Terapi Behavior
a. Tujuan
Terapi
Tujuan terapi behavior
secara umum adalah untuk belajar menciptakan kondisi baru dengan asumsi bahwa
belajar dapat memperbaiki masalah perilaku dan untuk meningkatkan kehidupan
pribadi yang lebih efektif
b. Fungsi
dan Peran Terapis
- Secara sistematis
berusaha untuk mendapatkan informasi tentang anteseden situasional, dimensi
perilaku masalah, dan konsekuensi dari masalah.
- klarifikasi masalah
klien bersama dengan klien
- merencanakan target
perilaku
- memformulasikan
tujuan terapi
- mengidentifikasi
kondisi
- melaksanakan rencana
- evaluasi keberhasilan
dari perubahan rencana
- melakukan tindak
lanjut asesmen.
Fungsi lainya yang
penting sebagai terapis adalah menjadi role modeling bagi
klien. Salah satu proses dasar dimana klien belajar perilaku baru adalah
melalui imitasi. Terapis sebagai pribadi menjadi model yang signifikan.
c. Pengalaman
Klien dalam Terapi
Klien harus termotivasi
untuk berubah dan harus bersedia untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan
terapi, baik selama sesi terapi dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika klien
tidak termotivasi, kemungkinan tipis bahwa terapi akan berhasil. Setelah terapi
behavior sukses, klien mengalami peningkatan dalam memilih untuk berperilaku
dengan baik secara pribadi.
d. Hubungan
antara Terapis dan Klien
Pada terapi
behavior, faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, permisif, dan
penerimaan yang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk perubahan perilaku.
Terapis behavior cenderung aktif dan direktif dan berfungsi membantu memecahkan
masalah, Terapis juga harus bisa mendapatkan respect dari
klien.
3. Teknik-Teknik
Terapi Behavior
Untuk
mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik-teknik yang digunakan
untuk pengubahan perilaku.
a.
Desensitisasi sitematis
Desensitisasi
sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku
yang diperkuan secara negatif, biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon
yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan
stimulus yang secara perlahan dan santai.
b. Terapi
implosive
Terapi
implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara
berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi
yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar
itu klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus yang menimbulkan
kecemasan.
c. Latihan perilaku asertif
c. Latihan perilaku asertif
Latihan perilaku
asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk
menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.
d.Pengkondisian
aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan
untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak
menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikenehdaki tersebut terhambat
kemunculannya.
e.Pembentukkan
perilaku model
Perilaku model digunakan
untuk membentuk perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien
tentang perilaku model audio, model fisik, atau lainnya yang dapat diamati dan
diahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
f. Kontrak
perilaku
Kontrak perilaku adalah
persetujuan antara dua orang atau lebih untuk mengubah perilaku tertentu pada
klien. Dalam terapi nin konselor memberikan ganjaran positif yang penting
dibandingkan memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.
g. Token ekonomi
g. Token ekonomi
Token ekonomi dapat
digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat yang
tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token ekonomi,
tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan yang nyata yang
nantinya bisa ditukarkan dengan objek atau hak istimewa yang diinginkan. Tujuan
prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang
intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya
dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku
yang baru.
DAFTAR
PUSTAKA
Comments
Post a Comment